MEMILIH BOS ATAU PEMIMPIN

Oleh : Arius Kambu[i]

Pemilihan Kepala Daerah secara langsung sudah semakin mendekat waktunya, seluruh partai politik telah mengelus kandidat yang akan diusung masing-masing. Tokoh-tokoh yang ditawarkan juga telah memasang kuda-kuda mempersiapkan diri dalam pertarungan menggapai kursi panas No.1 di daerahnya masing-masing.

Di beberapa daerah, aturan KPU telah diabaikan dengan mencuri start pemasangan atribut, spanduk, dan baliho untuk menarik hati masyarakat pemilih. Karena dengan sarana tersebut, mereka berharap dapat membentuk opini positif dan persepsi masyarakat agar menjatuhkan pilihannya pada kandidat yang diusung. Namun bagi masyarakat yang jeli, tentunya telah memahami kesempatan menggunakan hak suara tidak boleh dijual murah seharga baju kaos atau amplop berisi puluhan ribu rupiah, tetapi kesempatan tersebut benar-benar akan disalurkan sesuai penilaian kinerja kandidat.

Bukankah menarik simpati itu sebaiknya dilakukan sejak awal dengan peningkatan kinerja dan tampilan prilaku agar pengenalan publik jauh-jauh telah melekat di hati mereka. Ironisnya, banyak kandidat yang belum mendapat simpati dari masyarakat, lantas bermunculan orang-orang bersih dadakan yang mengaku paling memenuhi kriteria aspirasi rakyat. Publik pun justru bersikap ragu-ragu, bahkan menyatakan belum punya pilihan pasangan kandidat sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan, yaitu tokoh yang benar-benar berorientasi pada rakyat dan memiliki kejujuran.

Mengapa? Karena acapkali dihadapkan pada kenyataan, ketika belum memperoleh kesempatan, orang-orang itu hebat, keras sikap maupun kritiknya. Namun begitu ada kesempatan dan memperoleh kesempatan, serta merta berubah sikap dan praktiknya bahkan tidak sedikit ikut larut dalam perilaku yang dulu mereka kecam sendiri.

Pemimpin yang dibutuhkan sekarang ini adalah orang yang mempunyai visi. Ibarat lampu jarak jauh dapat memberikan arah untuk setiap upaya dan kepada arah visi itulah semua orang yang dipimpinnya berjalan. Pemimpin memformulasikan strategi visi yang berintikan bagaimana potensi daerahnya pada masa datang. Pemimpin karena visinya tersebut, dapat menciptakan komitmen sampai akhirnya dapat mencapai tujuan, yaitu pemimpin yang mampu menjawab tantangan krisis seperti saat ini dan tentunya yang memiliki visi keberanian dan penuh perhitungan, sikap rendah hati, sederhana, jujur, dan mau belajar dengan mendengarkan, mengamati kecenderungan yang baru muncul, mengevaluasi kegagalan yang pernah terjadi dan mampu menyerap pelajaran dari hati nurani. Intinya pemimpin senantiasa mau belajar dan bukannya alergi atas setiap perubahan, tantangan maupun kritikan.

Lain dengan bos, yang sering dikonotasikan dengan penguasa, atau disamaartikan dengan manejer. Bos mau berbuat apa saja yang menurut pikirannya dianggap layak untuk dilakukan, maka ia akan melakukannya. Bagi bos, semua tindakan yang dilakukan adalah halal karena hirarki dan posisi anak buahnya hanya dianggap sebagai pelengkap untuk melayani keperluannya dan sebagai pelengkap penderita saja. Sikap apriori yang ditampilkan cenderung bertindak dengan cara menghakimi, dan selamanya menyatakan pendapatnya sudah pasti benar.

Obsesi Jadi Pemimpin

Menjadi pemimpin memang dituntut pengorbanan dan tanggung jawab besar, mampu bekerja keras ditunjang profesionalisme tinggi, tetapi sebaliknya tidak mengejar fasilitas dari kekuasaan yang diraih dengan mengabaikan profesionalisme dan tanggung jawabnya.

Banyak orang mengklaim dirinya sebagai pemimpin tetapi ternyata belum menunjukkan kemampuannya, lalu menuntut fasilitas jabatan yang disandang sehingga pemimpin tersebut kehilangan arah dari tujuan sebenarnya. Akibatnya, tugas dan tanggung jawabnya terlupakan.

Apabila sudah terlena dengan fasilitas dan kekuasaan pasti dia akan menjadi pemimpin yang senang diberi upeti dan biasanya menjadi gila hormat. Tidak peduli lagi dengan kemampuannya, yang penting harus makmur dulu. Kalau sudah demikian tidak ada lagi keadilan, tidak ada lagi right man on the right place, tetapi yang ada hanya siapa mampu memberi upeti atau memberi rasa kehormatan, maka dialah yang mulus kariernya tanpa peduli kemungkinan upeti tersebut hasil korupsi dari mana, karena menganggap jabatan adalah kekuasaan untuk meraih keuntungan pribadi dan kepentingan golongan.

Lepas dari itu semua ada satu hal yang entah disadari atau tidak oleh mereka yang berada di lapisan kekuasaan, yaitu mereka baru bisa diterima oleh lapisan bawah kekuasaan, bila mereka mampu mengekspresikan kemurnian moral dan menjaga amanah, bijaksana dalam bertindak dan bertindak dengan bijaksana.

Dalam pandangan Islam, setiap orang adalah pemimpin, baik sebagai pemimpin keluarga atau sebagai pemimpin dalam jabatan di kantor, dalam organisasi kemasyarakatan, pemimpin pemerintahan atau yang lebih besar lagi sebagai pemimpin negara. Karenanya setiap orang akan dimintai tanggung jawab kepemimpinannya, karena jabatan adalah amanah Tuhan yang dipertanggung-jawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Obsesi menjadi pemimpin bukan hanya didominasi pria atau wanita bekerja, tetapi ibu rumahtangga pun terobsesi agar suaminya menjadi pemimpin dengan harapan dapat menjadi “first lady” dapat menjadi Ketua Dharma Wanita yang memimpin arisan, acara pengguntingan pita, pemotongan nasi tumpeng bahkan acara peletakan batu pertama pembangunan gedung dan acara kehormatan lainnya yang sering kita saksikan, menunjukkan fungsi wakil, seolah dijabat oleh istri sang bos/pemimpin.

Tidak jarang kita dengar dan saksikan pada tayangan tv dan membaca di koran seorang pemimpin sering memberikan statemen yang sangat membingungkan, sehingga ia dinilai kurang memiliki etika hukum. Betapa tidak, kadang-kadang hari ini menyatakan sesuatu salah kemudian besok lantas menyatakan benar, sehingga menimbulkan polemik yang sebenarnya hanya membuang-buang waktu dan energi. Dia bukan seorang pemimpin yang disegani tetapi seorang bos yang ditakuti karena keseringan menyatakan yang tidak sesuai hati nurani.

Sampai kapankah kita selalu mendambakan seorang pemimpin ideal dan bukannya pemimpin yang “ngebos”?

Sekarang kita butuhkan pemimpin asketis yang mempunyai sikap jujur. Kita harus tepat dalam menilai apakah seseorang calon pemimpin kompeten, memiliki track record baik, kharisma, kredibel, dan berwibawa untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya.

Bangsa Indonesia harus dibebaskan dari pemimpin-pemimpin yang korup, pemimpin yang tidak mempunyai nyali menegakkan hukum, rakus, materialistik, tidak punya malu, oportunis, dan hedonistik, tidak memiliki kepekaan sosial, tidak memiliki kemauan untuk membela hak-hak rakyat yang tertindas.

Terlepas dari itu, maka secara moral untuk mencapai jabatan pemimpin hendaknya diawali niat baik dan tahu betul tujuan utama menjadi pemimpin. Sebab dengan tujuan yang jelas akan memudahkan seorang pemimpin membuat konsep ke mana akan melangkah, mau diapakan organisasi atau pemerintahan yang dipimpin. Jangan sampai terjadi sebaliknya setelah meraih jabatan pemimpin, ternyata tidak mengetahui sama sekali apa yang akan dikerjakan dan pada akhirnya hanya meng”copy” pejabat sebelumnya. Lebih dari itu janji-janji muluk pada saat pemaparan visi dan misi yang telah mereka sampaikan belum tentu direalisasikan.

Pemilihan kepala daerah secara langsung sudah di ambang mata dan sungguh diperlukan pemimpin yang mampu melakukan turning point pertumbuhan daerahnya, yaitu sebuah titik signifikan untuk menentukan apakah daerah yang dipimpinnya akan menjadi maju, stagnan atau mundur menjadi daerah tertinggal dari daerah tetangga. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengusik hati nurani mereka yang mencalonkan diri dalam kompetisi menjadi pemimpin.


[i] Staff Pengajar Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Uncen Jayapura Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: