Fokus Dalam Pemimpin, Pengikut, Situasi Berkaitan Dengan Proses Kepemimpinan

PENDAHULUAN

Dalam rangka untuk memahami dan mengaktualisasikan makna kepemimpinan bagi setiap orang dalam bisnis sebagai suatu proses bukan sebagai posisi, maka sikap dan perilaku dalam tindakan akan ditentukan oleh peran pemimpin, pengikut dan situasi, oleh karena itu pemahaman proses dalam peran kepemimpinan perlu mencurahkan pikiran secara fokus untuk mendalami konsepsi yang terkait dengan pemimpin, pengikut dan situasi.

Fokus atas konsepsi pemimpin dimaksudkan untuk megungkap hal-hal yang berkaitan dengan 1) kekuasaan dan pengaruh ; 2) intelegensia dan kreatifitas ; 3) personalitas ; 4) nilai dan sikap ; 5) perilaku kepemimpinan ; 6) keterampilan I kepemimpinan ; 7) kepemimpinan karisma dan transforsional.

Fokus atas konsepsi pengikut dimaksudkan untuk mengungkap hal-hal yang berkaitan dengan 1) pengikut dan kepengikutan ; 2) kelompok, tim, dan kefektifan mereka ; 3) motivasi, kepuasan dan kinerja ; 4) keterampilan II kepemimpinan ;

Fokus atas konsepsi situasi dimaksudkan untuk mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan 1) karekteristik situasi ; 2) keterampilan III kepemimpinan.

Dengan mendalami ketiga fokus tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kepemimpinan sebagai proses bukan posisi sehingga dapat dijadikan daya dorong untuk dapat mengaktualisasikan makna kepemimpinan kedalam peran pada semua tingkat dalam struktur organisasi.

FOKUS DALAM MEMAHAMI PEMIMPIN

Titik perhatian yang timbul dalam pikiran adalah menyakut kekuasaan. Dengan kekuasaan yang sejalan dengan peran dalam jabatan, seseorang dapat memerintahkan seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas yang dibebankan kepadanya untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Jadi bagaimanapun kekuasaan adalah kapasitas yang menyebabkan perubahan. Sebaliknya pengaruhnya adalah terkait dengan tingkat perubahan sesebenarnya dalam target seseorang kedalam sikap, nilai, kepercayaan atau perilaku. Pengaruhnya dapat diukur oleh perilaku atau sikap yang dimanifestasikan oleh para pengikut sebagai hasil dari pimpinannya.

Sejalan pikiran tersebut diatas, maka titik pusat pikiran akan terarh pula pada kekuasaan dan kepemimpinan, oleh karenanya tidak terlepas untuk memahami mengenai sumber kekuasaan pemimpin dan motip-motip pemimpin. Dengan pikiran itu pula, perlu untuk memahami yang berkaitan dengan taktik-taktik mempengaruhi yang disebut dengan 1) persuasi rasional ; 2) meminta inspirasi ; 3) konsultasi ; 4) intergrasi ; 5) permohonan 6) pertukaran ; 7) koalisi ; menekan ; 9) legimitasi.

Dengan pemahamn diatas mengenai pengaruh atas taktik dan kekuasaan, maka dapat kita simpulkan untuk memahami pemimpin secara terfokuskan bahwa Sejalan dengan pemikiran diatas maka peramid kekuasaan dapat digambarkan sebagai model bagaimana mendapatkan kekuasaan melalui kekuatan dari prinsip 1) kepercayaan ; 2) menghargai ; 3) mengakui kesalahan.

Jadi bila model tersebut hendak diaplikasikan menjadi kekuatan pemimpin dengan kepemimpinannya untuk menuntun pengaruh karekter menjadi kekuasaan dan wewenang yang dapat mempengaruhi orang lain, maka ia harus ditopang dengan prinsip yang disebut 4) jelaskan apa yang menjadi tanggung jawab mereka ; 5) berikan wewenang yang seimbang dengan tanggung jawan mereka ; 6) rumuskan standard yang memuaskan ; 7) lengkapi mereka dengan pelatihan dan pengembangan agar mereka dapat memenuhi ketentuan standard ; berikan pengetahuan dan informasi ; 9) siapkan mereka dengan umpan balik atas kinerja mereka ; 10) tantang mereka dengan kemuliaan dan hormati.

Sejalan dengan pemahaman pengaruh dan kekuasaan maka diperlukan pemahaman yang mendalam hal-hal yang berkaitan dengan apa yang disebut dengan „Intelegensia dan Kreatifitas“ artinya dengan intelegensia maka pemimpin sesorang yang cerdas menjadi lebih baik sebagai pemecah masalah karena kemampuan berhubungan, akurat membuat asumsi, kemampuan analisa data dan yang lebih penting lagi kecerdasannya memandang keuntungan. Sedangkan kreatifitas dirumuskan sebagai kemampuan untuk membuat observasi atau melihat cara baru, yang kesemuanya ditunjang oleh pengalaman.

Dengan mendalami pengaruh dan kekuasaan serta intelegensia dan kreatifitas akan membuka jalan untuk memahami sebagai pemimpin untuk mengembangkan „personlitas“ yang akan membentuk „nilai dan sikap“ yang akan menuntun aktualisasi dari „perilaku kepemimpinan“ yang akan memberikan daya dorong bahwa peran pemimpin diperlukan penguasaan „ketreampilan dasar yang mencakup komunikasi, pendengar, keyakinan, kelengkapan umpan balik yang konstruktif, mengelola stress“

Dengan mendalami hal-hal diatas, diharapkan dapat menumbuh kembangkan menjadi pemahaman yang mendalam apa yang disebut dengan „kepemimpinan karismatik dan keteladanan“

FOKUS DALAM MEMAHAMI PARA PENGIKUT

Timbul pertanyaan pada diri anda pentingnya untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan pemimpin dan kepemimpinan, oleh karena itu tergerakkan untuk memikirkan kembali bahwa banyak karekteristik dari kepemimpinan yang baik tumbuh dan berkembang dari keefektif yang tinggi dari pengikut.

Jadi para pengikut sebagai individu dapat juga menggambarkan suatu yang menimbulkan gambaran karekteristik dari pemimpin dengan memahami lebih mendalam yang berhubungan dengan apa yang disebut 1) pendidikan dan pengalaman pengikut ; 2) kekuasaan dan pengaruh pengikut ; 3) karekteristik pengikut lainnya.

Dengan memahami hal-hal tersebut diatas mendorong anda untuk mendalami hal-hal yang berkaitan dengan gaya-gaya kepengikutan yang disebut dengan 1) pengikut yang berbeda ; 2) pengikut konformis ; 3) pengikut prakmatis ; 4) pengikut pasif ; 5) pengikut berketeladanan.

Sejalan pikiran diatas melahirkan suatu pemikiran untuk dapat mendorong bekerjasama yang menggambarkan kualitas suatu hubungan diantara pemimpin dengan pengikut dari pada hanya menggambarkan karekteristik pemimpin dan pengikut.

Pemikiran diatas dikembangkan melalui penelitian SYMLOG (systematic multiple level observisions of group), yang berusaha menggambarkan pentingnya tiga dimensi kedalam satu peta gambaran yang disebut dengan 1) pengaruh yang terbesar vs tunduk ; 2) bersahabat vs bukan bersahabat ; 3) menerima vs tidak menerima dari wewenang.

Jadi dengan mendalami hal-hal yang diungkapkan diatas, maka pentingnya mendalami gambaran atas pengikut yang dipandang secara dramatis kurang bernilai. Umumnya pengikut itu adalah individu yang berperan dalam organisasi yang memberikan gambaran mengenai keberhasilan dan atau kegagalan.yang juga dapat pula memperlihatkan suatu kesan mengenai pemimpin.

Karena harus dimaklumi bahwa kebanyakan pengikut sebagai individu yang paling banyak menghabiskan waktu untuk berbuat dalam organisasi sesuai dengan perannya yang juga memberikan gambaran perbedaan persfektif yaitu 1) persfektif individual yang memperlihatkan bahwa pengikut dalam banyak cara berbeda dengan apa yang dilaksanakan pemimpin ; 2) gaya karekteristik para pengikut berdasarkan kerja yang diungkapkan kedalam diagram symlog diatas ; 3) melalui diagram symlog yang yang memperlihatkan dari tiga dimensi dapat dimanfaatkan sebagai pemikiran untuk mengidentikasi perilaku sebagai dasar untuk membuat keputusan dalam perubahan.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka tidak cukup memahami dari sisi karekteristik yang dibuat oleh pengikut sebagai individu tetapi juga perlu memahami dari sisi individu dalam kelompok dan atau tim.

Oleh karena itu anda harus memahaminya keefektifannya yang berkaitan dengan hal-hal yang terkait dengan kelompok yang mencakup apa yang disebut dengan 1) ukuran kelompok ; 2) tingkatan pengembangan kelompok ; 3) norma-norma kelompok 4) jaringan-jaringan komunikasi dalam kelompok ; 5) perhubungan kelompok.

Sejalan dengan pikiran diatas, maka sebaiknya kita mulai dari pemahaman atas difinisi kelompok. Kelompok adalah dapat dipikirkan sebagai dua orang atau lebih yang saling berintraksi satu sama lainnya dan setiap orang satu sama lain dapat saling mempengaruhi, sehingga dalam studi mengenai kepemimpinan kita temukan tiga aspek yaitu 1) terkait dengan difinisi kedalam konsep korporasi yang mengungkapkan pengruh diantara pemimpin dan pengikut ; 2) anggota kelompok saling berintraksi dan mempengaruhi ; 3) difinisi yang tidak perlu memperhatikan keterbatasan individu dalam satu kelompok, dimana setiap orang dapat saja mlik klompok yang terkait dalam pengelompokan kegiatan..

Dari uraian diatas, harus dipahami pula perbedaan pemahaman arti kelompok dengan tim. Setiap orang tahu apa itu tim, tapi perlu diingat bahwa membentuk tim tidak sekadar hanya dalam mengumpulkan orang karena dapat dibentuk berdasarkan fungsi, beban kerja, suasana keharmonisan, penunjukan, secara sukarela, buku pedoman. Jadi membentuk tim bukan sekedar membagi tugas melainkan jenis peran di dalam tim yang biasa disebut dengan driver , planner, enabler , exec dan controller. Jadi tim adalah sekelompok orang yang bekerja sama sesuai dengan peran yang dibutuhkan karena sifat spesialisasinya.

Dengan demikian membangun tim dan karetristik tim yang benar-benar mampu bekerja dapat dipahami melalui model kepemimpinan kedalam tim yang efektif yang disebut dengan „Systems Approach to Teams“ (input – proses – outputs).

Dengan mendalami pemikiran yang kita utarakan diatas, dapat mendorong kekuatan pikiran anda untuk memberikan daya dorong bahwa kebrhasilan menggerakkan pengikut didasarkan ada pihak-pihak harus menyadari arti „motivasi, kepuasan dan kinerja“ merupakan faktor penentu menuju kesuksesan.

Untuk mewujudkan kerjasama menjadi satu kenyataan, maka perlu untuk meningkatkan „keterampilan lanjutan (II)“ dalam kepemimpinan, yang dalam hal ini mnyangkut kemampuan keterampilan dalam 1) membangun kompetensi teknis (menentukan bagaimana membagi pekerjaan pada misi secara menyeluruh ; menjadi ahli dalam pekerjaan ; mencari peluang pada pengalaman yang lebih luas) ; 2) membangun hubungan secara efektif dengan supervisi (memahami kata keunggulan ; mengadaptas terhadap gaya keunggulan) ; 3) membangun hubungan yang efektif dengan penampilan (mengakui kpentingan umum dan tujuan ; memahami penampilan tugas, masalah dan penghargaan ; mempraktekkan sikap teori Y) ; 4) merumuskan tujuan (tujuan seharusnya spesifik dan dapat dlihat ; tujuan seharusnya dapat dicapai tetapi menantang ; tujuan membutuhkan komitmen; tujan membutuhkan umpan balik) 5) pendelegasian (mengapa pendelegasian adalah penting ; alasa umum untuk menggariskan pendelegasian ; prinsip-prinsip dari pendelegasian yang efektif)

FOKUS MEMAHAMI DALAM SITUASI

Setelah secara sekilas kita memahami untuk mendalami pemahaman pemimpin dan pengikut maka selanjutnya akan kita utarakan unsur situasi sebagai unsur yang saling terkait dalam memahami konsepsi kepemimpinan sebagai proses.

Pendalaman akan diungkapkan melalui pemahaman atas apa yang disebut dengan karekteristik dari situasi. Disini kita harus memahami tingkatan stisional kedalam tugas, operasional dan lingkungan karekteristik itu. Sendiri.

Yang berkaitan dengan karekteristik tugas, maka perlu kita mendalami hal-hal yang berkaitan dengan 1) struktur tugas ; 2) perubahan jenis keterampilan ; 3) identifikasi tugas ; 4) pengertian tugas ; 5) umpan balik ; 6) saling tergantungan tugas.

Sedangkan yang berkaitan dengan karekteristik operasional, yang perlu kita dalami hal-hal yang berkaitan dengan 1) tingkat-tangkat dari wewenang ; 2) struktur organisasi ; 3) rancangan organisasi ; 4) dari sisi saling ketergantungan ; 5) iklim dan budaya organisasi ; 6) isu-isu yang terpikirkan dari organisasi untuk pelajar dan pemimpin muda.

Sebaliknya yang berkaitan dengan karekteristik lingkungan yang perlu kita dalami hal-hal yang berkaitan dengan 1) teknologi dan ketidakpastian ; 2) krisis atau konflik ; 3) model pilihan, hambatan dan permintaan.

Akhirnya kita perlu memahami apa yang disebut dengan hal-hal yang berkaitan rekayasa situsional artinya salah satu titik yang penting pada umumnya dapat membuat ide-ide dari rekayasa ituasional, meskipun perilaku pemimpin dan pengikut yang dipengaruhi oleh faktor tugas, organisasi dan lingkungan, yang kesemuanya sering pemimpin dan pengikut secara lihat melihat bagaimana perubahan situasi dapat membantu mereka terhadap perubahan perilaku mereka.

Dengan memperhatikan hal-hal yang dikemukakan diatas maka situasi merupakan unsur sebagai faktor yang paling komplek dalam kerangka pemimpin, pengikut dan situasi juga merupakan faktor kekuatan. Oleh karena itu faktor situsional dapat berperan untuk meminimumkan dampak kelemahan personalitas, intelegensi, nilai dan yang terkait dengan perilaku pemimpin dan pengikut, sikap dan hubungan.

Untuk mendukung pemahaman apa yang diutarakan diatas, maka diperlukan keterampilan lanjutan III, yang harus dipahami dan dikembangkan secara terus menerus sehingga menjadi pembentukan kebiasaan yang produktif, yang berkaitan dengan 1) yang berhubungan pertemuan ; 2) pemecahan masalah (identifikasi masalah atau peluang untuk perbaikan ; menganalisa sebab-sebab ; mengembangkan situasi alternatip ; memilih dan melaksanakan solusi yang terbaik ; menilai damai dari solusi) ; 3) mengelola konflik (apa itu konflik, apakah konflik selalu beruk, strategi solusi konflik) ; 4) negosiasi ; 5) hukuman ( penyesuaian lingkaran yang mempergunakan hukuman ; hukuman kepuasan dan kinerja ; administratip hukuman ) ; 6) diagnosa masalah kinerja dalam individu, kelompok dan organisasi ( kemampuan, keterampilan, pemahaman tugas, pilihan terhadap pelaksanaan, tingkat keberhasilan dan penolakan, sumber daya yang diperlukan, faktor kelompok, faktor organisasi dan lingkungan, konkulusi komentar atas model diagnosis)

PENUTUP

Bertitik dari pemahaman mengenai konsepsi kepemimpinan sebagai suatu proses bukan yang berkaitan dengan posisi, maka untuk dapat mengaktualisasi kedalam pola pikir sebagai pemicu bersikap dan berperilaku untuk terus menumbuh kembangkan apa yang disebut dengan „efektivitas pribadi“ artinya suatu kerangka untuk membangun konsep diri yang berkelanjutan melalui suatu proses pemberdayaan pribadi dalam usaha untuk menempatkan pada posisi daur hidup yang prima untuk mencapai keunggulan, keseimbangan dan pembaharuan.

Oleh karena itu dibutuhkan pemikiran yang terfokuskan untuk mendalami apa yang disebut pemimpin, pengikut dan situasi sebagai faktor penentu untuk mewujudkan kepemimpinan yang efektif.

Jadi dengan mendalami faktor pemimpin, pengikut dan situasi berarti pula sebagai langkah untuk meningkatkan efektivitas pribadi dari impian menjadi satu kenyataan sebagai aktualisasi diri kedalam Kredibilitas (bagaimana pemimpin mendapatkan kepercayaan dan keyakinan dari stakeholders), Kebiasaan (mendewasakan intelektual, emosional, sosial dan rohaniah untuk mencoba mencari arti dalam hidup ini dan mengkomunikasikannya hasil guna yang dicapai kepada orang lain secara prakmatis) dan Proaktivitas (kemampuan menganalisa dan diagnosis terhadap persoalan potensial untuk menghindari masalah dan mengidentifikasi peluang)

Dengan demikian untuk memahami konsepsi kepemimpinan sebagai proses membutuhkan pemahaman peminpin, pengikut dan situasi dalam rangka meningkatkan efektivitas pribadi melalui usaha membangun kredibilitas, kebiasaan dan proaktivitas dalam usaha mewujudkan kepemimpinan yang efektif sebagai suatu pemahaman kedalam konsepsi proses bukan posisi.

Sumber : sdmatr.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: