Kepemimpinan Entrepreneur Menembus Gelombang Perubahan

PENDAHULUAN

Abad 21 merupakan abad penuh dengan tantangan dimana sikap dan perilaku harus mampu menyesuaikan diri yang sejalan dengan tuntutan paradigma dalam abad 21 (profesionalisme, kreatif dan inovasi, antisipatif). Dengan kesiapan sikap dan perilaku kepemimpinan entrepreneur harus mampu menembus ketidakpastian menjadi peluang, oleh karena itu membangun kebiasaan yang produktif merupakan kunci menuju sukses dalam menembus gonjangan-gonjongan yang ditimbulkan oleh faktor internal dan faktor eksternal, disinilah dituntut kemampuan kepemimpinan mengelola dari dampak konflik dalam menanggapi kepentingan stakeholders.

Sejalan dengan pemikiran yang kita utarakan diatas, maka dalam usaha menembus gonjangan-gonjangan dari hiruk pikuk dalam masa perubahan cepat, ada baiknya kita menyimak apa yang diutarakan dalam buku”The Learning Revolusion : To Change The Way The World Learns” by Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos” Dalam buku ini menyebutkan 16 kecenderungan utama yang akan membentuk dunia di masa depan : 1) Zaman komunikasi instant ; 2) Dunia tanpa batas-batas ekonomi ; 3) Emapat lompatan menuju ekonomi dunia tunggal ; 4) Perdagangan dan pembelajaran melalui internet ; 5) Masyarakat layanan baru ; 6) Penyatuan yang besar dengan yang kecil ; 7) Era baru kesenangan ; Perubahan bentuk kerja ; 9) Perempuan sebagai pmimpin ; 10) Penemuan terbaru tentang otak yang mengagumkan ; 11) Nasionalisme budaya ; 12) Kelas bawah yang semakin besar ; 13) Semakin bsarnya jumlah manula ; 14) Ledakan praktik mandiri ; 15) Perusahaan kooperatif ; 16) Kemenangan individu.

Hal-hal yang diutarakan diatas terkait dengan pemahaman yang disebut dengan “content futurism” seperti halnya yang ditulis oleh John Naisbitt, Alvin Toeffler dan sebagainya, tetapi yang lebih penting bagaimana anda memanfaatkan informasi menjadi apa yang disebut dengan “proses futurism”. Perhatikan tulisan kami dengan judul “Tantangan Abad ke 21” yang mengulas identifikasi tantangan, perubahan paradigma, mengubah pola pemikiran dalam paradigma baru, mengungkit paradigma kepermukaan, kesiapan menghadapi tantangan abad 21, model kesiapan memasuki perubahan.

Dengan memperhatikan hal-hal yang dikemukakan diatas, maka kunci menuju sukses dalam peran kepemimpinan entrepreneur diperlukan langkah-langkah pemikiran yang terus menerus untuk membangun kebiasaan yang produktif dalam menembus goncangan pikiran dimana dunia terus dipacu oleh penguasaan ilmu pengetahuan dari informasi, keterampilan dari pengalaman, keinginan dari niat adalah kuncinya kekuatan pikiran yang terkait dengan belajar.

KEKUATAN PIKIRAN DALAM KEBIASAAN

Kepemimpinan entrepreneur menembus gelombang perubahan diperlukan kekuatan pikiran dalam kebiasaan belajar sebagai kunci menuju sukses sebagai jalan keluar dari kuncangan atas sikap dan perilaku yang tidak siap menghadapi tantangan dari ketidakpastian dalam revolusi gelombang perubahan.

Menggerakkan kekuatan pikiran untuk mewujudkan visi hidup kedalam berpikir, bekerja dan belajar merupakan daya dorong untuk kemampuan kepemimpinan entrepreneur memanfaatkan kesadaran, kecerdasan dan akal dalam bersikap dan berperilaku untuk keluar dari gonjangan kepemimpinan dalam mencari jalan solusi dari dampak faktor internal dan eksternal melalui apa yang telah anda bangun dari kebiasaan yang produktif.

Aktualisasi dari kebiasaan yang produktif dengan memanfaatkan kekuatan pikiran sebagai suatu pendekatan sebagai berikut :

Pertama, mendorong keinginan menjadi satu kenyataan : Tonggak menggerakkan kekuatan pikiran dalam kebiasaan adalah apa yang disebut dengan keinginan. Keinginan haruslah dimulai dari kesadaran. Melalui kecerdasan mengangkat hal-hal dari kesadaran kedalam suatu impian. Dengan akal membuat keputusan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan. Suatu kenyataan haruslah didukung oleh niat yang kuat dan ihklas dari keinginan itu sendiri. Jadi keinginan yang dilandasi dengan niat untuk mencapainya haruslah sejalan kekuatan pikiran dari arah persfektif, posisi masa depan dan kinerja yang hendak dicapai. Kesemuanya itu harus mampu dikomunikasikan dengan baik dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan atasnya.

Keinginan belajar dari kebiasaan yang produktif mendorong sikap antisipatif dan perilaku proaktif dalam usaha mewujudkan suatu impian menjadi kenyataan dalam menuju keberhasilan.

Kedua, keberanian merubah rencana yang berjalan : Rencana jangka panjang (persfektif), jangka menengah (posisi masa depan) dan jangka pendek (kinerja), bila dipandang perlu dari hasil analisa antisipatif dan analisa SWOT dan analisa kinerja yang tidak sesuai dngan standard yang ditetapkan, maka sejalan dengan kekuatan pikiran dalam kepekaan orang harus berani dalam melangkah untuk merubah sikap dan perilaku bahwa suatu rencana sebagai pedoman tidak boleh terpaku dalam pikiran yang tidak boleh dirubah.

Berdasarkan pikiran diatas, maka dengan niat yang jelas dalam mewujudkan keinginan haruslah ada keberanian untuk merubah suatu rencana yang sudah ditetapkan bila tidak sesuai lagi akibat dampak faktor internal dan eksternal yang sangat mempengaruhi dalam usaha wewujudkan sasaran yang lebih sesuai dengan tntutan perubahan.

Ketiga, melaksanakan kekuasaan dengan tanggung jawab : Apa yang seharusnya dilakukan untuk mencapai sukses sejalan dengan tanggung jawab pekerjaan dengan kejelasan pelaksanaan kerja yang harus dilakukan sesuai dengan perintah yang diberikan.

Untuk menuju kesuksesan dengan kekuasaan yang diberikan, maka untuk mencapai diperlukan penjelasan yang berkaitan dengan apa yang disebut dengan : 1) pentingnya secara jelas merumuskan yang berkaitan dengan tanggung jawab ; 2) adanya dorongan untuk mengambil inisiatif dan kratif ; 3) jelaskan kepada mereka bagaimana hubungan tanggung jawab terhadap tujuan-tujuan yang dicapai ; 4) komunikasikan dan mendorong tanggung jawab ; 5) bila mengkomunikasikan dan mendorong tanggung jawab ; 6) bedakan antara tugas-tugas dan tanggung jawab ; 7) membangun kebagaan melalui tanggung jawab ; hindari duplikasi tanggung jawab ; 9) prioritaskan tanggung jawab ; 10) beritahukan kepada setiap anggota tim tanggung jawab ; 11) apa yang harus dilaksanakan bilama tanggung jawab berubah.

Bertitik tolak dari uraian diatas, dalam usaha merealisasikan impian menjadi kenyataan harus ditopang oleh kekuatan pikiran dalam kebiasaan untuk selalu bertanggung jawab atas sikap dan perilaku, bukan lari dari tanggung jawab bahkan adanya usaha mengalihkan menjadi konflik. Itulah yang harus diingat dalam niat apapun yang terjadi dari keputusan atas arah persfektif, posisi masa depan dan kinerja untuk menjadi daya dorong untuk terus ertanggung jawab atas apapun yang dputuskan dan dilaksanakan.

Keempat, jangan paksakan pribadi efektif pada orang lain: Membangun pribadi efektif bukan sesuatu yang dipaksakan melainkan ia tumbuh dan berkembang atas pribadi sendiri, oleh karena itu perubahan kepribadian menjadi komitmn diri sendiri bukan sesuatu yang dipaksakan orang untuk menysuaikan diri.

Dengan pikiran itu organisasi membangun budaya perusahaan sebagai pedoman yang disetujui bersama mengenai rumusan nilai, norma, wewenang dan ganjar yang akan menuntun semua orang yang terlibat dalam organisasi, sehingga ia merasakan ada keterikatan kedalam bukan sesuatu yang dipaksakan.

Kelima, kebingungan dan keraguan menjadi kekuatan : Kebingungan dan keraguan menjadi pendorong atas sikap dan perilaku yang tidak mampu menolak dari tekanan mental tetapi dibalik itu seseorang harus mampu menjadikan sesuatu kekuatan baru dari kebingungan dan keraguan.

Sikap dan perilaku baru tersebut akan ditunjukkan dalam pola pikir kehidupan ini dengan mata hati agar setiap orang tahu dan yakin tidak ada kesempurnaan dalam kehidupan ini, namu manusia harus berusaha dan bekerja dan hasilnya kita berserah diri kepada Allah Swt.

Untuk mengangkat kebingungan dan keraguan menjadi suatu kekuatan mental dengan memanfaatkan kekuatan kesadaran, kecerdasan dan akal sehingga dapat mengidentifikasi situasi dan mampu merumuskan masalah yang menegangkan pikiran dimana secara langsung mempengaruhi sikap dan perilaku, oleh karena itu diperlukan perasaan yang dapat mnuntun untuk dapat memotivasi diri dalam menemukan makna dan pelajaran yang terkandung dalam rumusan masalah (kritis, pokok, isendentil) sehingga tidak tercebak mengikuti perasaan asal menyelesaikan.

Keenam, membangun kerjasama : Jalan menuju suskses haruslah dipandang sebagai daya dorong dalam rangka melaksanakan niat yang sejalan dengan keinginan dari kebiasaan yang produktif artinya secara sadar diyakini bahwa kekuatan sinergy lebih besar dibandingkan dari kekuatan sumber daya sendiri.

Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama tim untuk memecahkan gonjangan-gonjangan ketidakpuasan yang dapat berdampak konflik yang berkepanjangan, sehingga dengan kerjasama tim diharapkan tidak ada masalah yang tak dapat diatasi. Jadi dengan dorongan keberanian yang ditopang oleh niat kerjasama dan ihklas maka setiap orang dapat mengatasi apapun.

Untuk mewujudkan kerjasama tim yang harmonis dalam rangka pembelajaran untuk meningkatkan kebiasaan yang produktif diperlukan 1) komitmen yang menginspirasikan hasil ; 2) penguasaan kompetensi yang dibutuhkan ; 3) komunikasi yang efektif ; 4) perpaduan yang mendorong hubungan pribadi ; 5) mengelola konflik ; 6) adanya konstribusi secara sadar dalam kegiatan ; 7) tumbuhnya kreativitas kelompok ; kebersamaan dalam melaksanaan perubahan ; 9) aktualisasi kepemimpinan kolaboratif ; 10) terbangunnya komunitas dengan landasan pribadi yang efektif.

Ketujuh, mengelola kepekaan dalam kepentingan : Dalam meningkatkan kedewasaan sikap dan perilaku dalam kehidupan ini dapat diibaratkan seperti dalam kebahagian sebaiknya jangan tinggi hati, sebaliknya dalam kesusahan jangan kehilangan semangat, ini menunjukkan bahwa dalam kerendahan hati disukai orang. Oleh karena itu, memanfaatkan kekuasaan dan wewenang haruslah bertolak dari keinginan berdasarkan niat dalam melaksanakan tanggung jawab.

Dengan memiliki kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intelektual akan menuntun manusia kedalam rendah hati yang bermuara dari kemurahan hati seperti yang diperlihat oleh sifat para nabi dan merupakan tonggak iman. Dengan sikap dan perilaku yang rendah hati, itu menunjukkan adanya keyakinan dan cita-cita kemurahan hati dalam setiap perbuatan dibuatnya sehingga tumbuh dengan subur makna kepekaan yang dihayati dengan siap mengorban diri demi untuk keseimbangan dalam mewujudkan kepentingan individu, kelompok dan organisasi.

Dengan sikap dan perilaku yang dituntun atas perintah-Nya, maka perjalanan hidup yang penuh tantangan ini menjadi indah untuk dilalui, sehingga wujud dari rendah hati dan khusu’ merupakan ruang tunggu bagi kesempurnaan dalam usaha-usaha meningkatkan makna kepekaan dalam berpikir.

Kedelapan, gerakkan keadilan dan kebenaran : Dengan memahami peran kepemimpinan berarti ia mampu bersikap dan berprilaku secara terbuka yang merupakan kunci keberhasilan dalam mempengaruhi orang lain, sebaliknya bila peran pemimpin sebagai atasan akan cenderung tertutup.

Oleh karena itu sikap dan perilaku tertutup akan selalu dihadapi konflik kepentingan sehingga orang cenderung melindungi diri dari rasa malu sehingga sulit untuk menggerakkan keadilan dan kebenaran dalam tindakan, itulah atasan sebagai pemimpin yang tidak memiliki peran kepemimpinan.

Dapatkah kita memiliki sikap dan perilaku dalam bentuk sifat – sifat melaksanakan keadilan dan kebenaran dalam perbuatan hidup di dunia ini. Oleh karena itu wujud keadilan dan kebenaran bukan hanya harus dijalankan, tetapi juga dinyatakan dan tampak dijalankan. Jawabannya akan terletak tingkat kedewasaan rohaniah seseorang yang mampu dari waktu ke waktu dalam perjalanan hidup ini, menumbuh-kembangkan kepribadian yang memiliki kejujuran untuk menegakkan perbuatan keadilan dan kebenaran dalam menuju kenikmatan hidup di dunia dan akhirat. Itulah niat yang ditumbuhkan dalam membangun kebiasaan yang produktif. Tanpa kekuatan jiwa tidak mungkin mata hati menjadi terbuka dalam mewujudkan keadilan dan kebenaran.

Kesembilan, hindari menjadi beban orang lain : Bila dalam kehidupan ini hanya mementingkan wujud kesadaran indrawi, maka orang itu akan selalu bersikap dan berperilaku untuk menyelamatkan diri dari tekanan atas keterbatasan sumber daya yang dimulikinya, maka akan cenderung melangkah jalan keluar dengan membebani orang lain. Inilah satu kenyataan dari watak ingin meraup sebanyak mungkin keuntungan dari orang lain yang berdampak untuk menjadi beban orang lain.

Hanya dengan ketakwaan kepada-Nya, maka pintu hati akan terbuka, ini berati kita dapat mengendalikan emosi dan naluri serta menjaga memori, sehingga kita mampu mengendalikan luapan amarah, kekerasan dalam perbuatan, ketajaman tangan dan lidah. Jadi dengan begitu kita mampu memilih yang paling bijaksana, bahkan tidak memutuskan sesuatu setelah kekacauan hati ini diingatkan kembali oleh yang maha kuasa.

Dengan menumbuh kembangkan kedewasaan rendah hati dan khusu’ dalam kehidupan ini, maka dalam mengaktualisasikan kesadaran, kecerdasan dan akal pada semua perbuatan dimana usaha mengendalikan hati menjadi korban perasaannya, kesuksesan mendorong kesombongan, kekecewaan melahirkan patah hati. Kesemuanya itu merupakan gerakan pikiran dari kehendak, naluri dan paksaan. Bila hal itu didasarkan kepada rendah hati dan khusus’ yang melahirkan cinta kepada Allah semata, maka gerakan pikiran itu akan tertuju pada tidak ada kebaikan dan kemaslahatan bagi setiap wujud kecuali gerakan cintanya diperuntukkan bagi penciptanya.

Disinilah letak keinginan dengan niat yang ihklas untuk mulai memikirkan dampak kegoncangan dari kesadaran indrawi yang mendorong orang hanya memikirkan diri sendiri, oleh karena itu
ia melepaskan miliknya untuk mematuhi Allah dan berbuat demi Allah semata. Disinilah letak kesempurnaan dari aktualisasi pikiran dalam mewujudkan keadilan dan kebenaran dari gerakan kehendak, naluri dan paksaan kejalan yang benar.

PENUTUP

Untuk keluar dari kegundahan yang diakibatkan oleh faktor internal dan eksternal, maka diperlukan kekuatan pikiran yang dapat menumbuh kembangkan kebiasaan yang produktif.
Kebiasaan yang produktif hanya dapat tumbuh dari kekuatan ilmu pengetahuan, keterampilan dan keinginan yang harus terus dipelajari secara berkelanjutan. Oleh karena itu, jalan menuju keberhasilan dari peran kepemimpinan entrepreneur menembus gelombang perubahan terletak dari perubahan aktualisasi dalam sikap dan perilaku.

Kesiapan untuk menghadapi goncangan kepemimpinan dari kemampuan untuk menembus gelombang perubahan dari situasi ketidakpastikan, maka diperlukan pola pikiran yang membuat hidup ini mampu merealisasikan impian menjadi kenyataan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang ditopang oleh keinginan yang berlandaskan niat yang ihklas untuk diterapkan sebagai kunci „bagaimana cara anda untuk mencapai keberhasilan“ yang kita sebutkan melalui : Pertama, mendorong keinginan menjadi satu kenyataan ;
Kedua, keberanian merubah rencana yang berjalan ;Ketiga, melaksanakan kekuasaan dengan tanggung jawab ;Keempat, jangan paksakan pribadi efektif pada orang lain ;Kelima, kebingungan dan keraguan menjadi kekuatan ;Keenam, membangun kerjasama ;Ketujuh, mengelola kepekaan dalam kepentingan ;Kedelapan, gerakkan keadilan dan kebenaran ;
Kesembilan, hindari menjadi beban orang lain..

Kesembilan cara yang disebutkan diatas, merupakan pendekatan untuk keluar dari goncangan kepemimpinan dalam menghadapi tantangan dalam mewujudkan arah persfektif, posisi masa depan dan kinerja yang telah diputuskan.

Sumber : sdmatr.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: